Hikmah Kehidupan

Aku Ingin Terbang, Namun Sayapku Hanya Satu

Malam itu Kalya sedang asyik membaca sebuah novel “Ketika Mas Gagah Pergi” yang baru saja dirilis, Asma Nadia Publishing. Membaca memang salah satu hobi dari Kalya, selain melukis. Biasanya ia membaca di malam hari, sebelum tertidur lelap.

Kalya seorang gadis berusia 23 tahun, berperangai baik, sopan lagi santun, cantik, cerdas dan yang menambahkan sempurna dirinya ialah dia juga wanita muslimah yg sholehah. Maka tak heran, jika di sekolah dan kampusnya dahulu ia kuliah, Kalya begitu di kagumi oleh teman2 nya juga para staf pengajar.

Hari demi hari di jalani Kalya dengan sangat bahagia. Karena ia berasal dari keluarga yang serba cukup, dan memiliki latar belakang agama yg cukup baik. Meskipun mereka bukan datang dari kalangan keluarga santri, namun karena pemahaman ilmu agama keluarga mereka baik, maka keluarga mereka pun cukup disegani di lingkungannya.

Ayah Kalya telah wafat 16 tahun lalu, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Kalya memiliki 3 saudara diatasnya. Yaitu seorang kakak perempuan dan dua kakak laki2. Namun, meskipun ia seorang anak bungsu, tetapi hidupnya penuh dengan kemandirian. Sejak di tinggal ayahnya wafat, Kalya selalu menerima beasiswa dari sekolahnya, juga dari kampusnya saat ia kuliah. Dan sampai sekarang pun, Kalya masih mengabdi untuk kampusnya, yaitu sebagai dosen tetap di salah satu perguruan tinggi swasta tempat ia berkuliah dulu.

Selain itu, Kalya juga aktif di beberapa organisasi keagamaan serta beberapa majelis ta’lim. Maka tak heran pula, jika Kalya memiliki banyak teman ataupun sahabat. Karena sifatnya yang periang, sopan, juga cerdas.

Usai membaca novel yang baru saja dibelinya itu. Tiba-tiba pikiran Kalya teringat akan sepasang suami istri yang di jumpainya saat ia membeli novel tersebut siang tadi. Ia melihat sepasang suami istri tersebut begitu harmonis, dengan seorang buah hati mereka yg lucu. Dan tak sadar, Kalya pun berucap “Ya Allah, aku ingin seperti mereka” dan tak lama Kalya bangkit dari kursi malas, yang terletak di sudut kamarnya. Dan kursi itulah, yang setia menemani Kalya saat membaca. Segera saja Kalya meraih kenangan semasa ia SMA. Halaman demi halaman ia buka, sampai tiba dia membuka halaman 23. Disitu terdapat gambar foto2 siswa 3 IPA 3, dan langsung saja mata Kalya menatap seorang laki2 yang berada di deret depat dalam foto tersebut. Rupanya Kalya pernah menyukai laki2 tersebut, namun ia simpan rapat-rapat rasa sukanya itu sampai saat ini.

Berselang 3 bulan kemudian, Kalya diutus oleh kampusnya sebagai peserta seminar tentang pendidikan yang diadakan oleh kementerian pendidikan, di kota Surabaya. Seminar yang berlangsung selama 4 hari itu dihadiri oleh 100 peserta, yang terdiri dari dosen, dan kalangan akademisi lainnya seperti pembantu dekan dan beberapa rektor dari berbagai PTN dan PTS terpilih di Indonesia.

Pada saat hari ke 2, diadakan semacam simulasi yang berkaitan dengan materi2 yang disampaikan dalam seminar itu. Semua memang sudah rencana Tuhan, saat itu Kalya 1 kelompok dengan seorang pemuda yang cukup tampan, pendiam tapi sangat cerdas. Dan ternyata setelah saling berkenalan sebelum dimulai simulasi tsb, Kalya akhirnya mengetahui nama pemuda tersebut. Fahri nama pemuda tersebut. Ya nama yang sangat akrab di telinga Kalya, saat ia masih duduk di bangku SMA. Dan tak lama, simulasi pun dimulai. Dimana dalam 1 kelompok tersebut, dituntut teamwork yg solid dalam memecahkan permasalahan yg diberikan. Akhirnya, kelompok yg di gawangi oleh Kalya, Fahri dan 3 orang lainnya memenangkan games hari itu. Simulasi pun selesai, dan seminar hari kedua pun usai. Namun, saat acara makan malam bersama, kekompakan antara Fahri dan Kalya pun berlanjut. Fahri tanpa sungkan duduk 1 meja dengan Kalya dan 2 orang teman sekamar Kalya. Dan merekapun terlibat dalam percakapan yg hangat. Sampai akhirnya, Fahri bercerita kalau dulu ia bersekolah di SMA 3 Jakarta. Dan dag dig dug, hati Kalya berkecamuk, muncul pertanyaan; apakah ini Fahri yg kusukai dulu?? Dan ternyata benar saja dugaan Kalya. Karena Fahri pun ingat & mengakui kalau dulu Kalya 1 sekolah dengannya & sangat di kagumi siswa2 yg lainnya. Akhirnya, acara makan malam pun selesai dan para peserta kembali ke kamar masing2 untuk tidur. Tapi, sikap Fahri tidak begitu saja meninggalkan meja Kalya & teman2 sekamarnya. Sebelum pamit, Fahri meninggalkan kartu nama agar Kalya dapat mencatat nomor telepon dirinya.

Lalu Kalya & teman2 sekamarnya pun beranjak ke kamar hotel tempat mereka menginap. Saat Kalya masuk ke kamar hotel, lalu bergegas ia ke kamar mandi untuk menggosok gigi & berwudhu, agar ia bisa segera tidur lebih cepat. Karena, kebiasaan Kalya yg selalu bangun di 1/3 malam utk bermunajat kepada Allah. Namun malam itu, ia tak dapat tertidur pulas. 1 jam sekali ia terjaga, sambil mengingat kejadian hari kemarin saat ia harus 1 kelompok, lalu makan malam 1 meja dengan Fahri. Ia tak berpikir jika akan bertemu Fahri di acara seperti ini. Dan pikirannya pun melayang mengingat pemandangan di toko saat ia membeli novel waktu itu. Andai saja suami istri itu, aku dan Fahri. Begitu hayalnya Kalya malam itu.

Dan tepat, di jam 3 dinihari Kalya terbangun lagi. Dan langsung saja ia beranjak dari tempat tidur ukuran single bed itu segera menuju toilet untuk berwudhu. 8 raka’at ia lakukan untuk sholat Tahajud, dan ia menambahkan 2 raka’at untuk Istikharoh. Dalam sholat Istikharohnya ini, Kalya sangat memohon jika Fahri adalah jodoh yg terbaik menurut Allah untuk dirinya maka dekatkan & mudahkan jalannya. Tak terasa air mata Kalya pun menetes di pipinya yg sedikit chubby itu, karena begitu “mesra”nya ia bermunajat kpd Sang Maha Cinta. Tak terasa, begitu lama Kalya bermunajat malam itu. Hingga 45 menit lagi sudah masuk azan Shubuh. Dan ia pun mengakhiri sholat malamnya, dengan sholat witir & sujud syukur di atas sajadah biru kesayangannya. Lalu ia segera mengambil handuk untuk mandi pagi. Pas saja selesai ia mandi & bersalin, azan Shubuh pun berkumandang. Lalu Kalya pun segera menuju sajadah birunya kembali, untuk sholat qobliyah & Shubuh.

Hari ketiga seminar berjalan seperti biasa, walaupun di dalam dada Kalya deg deg-an jika tak sengaja mata Fahri bertatapan dengan matanya. Sampai akhrinya masuk di ke 4 seminar, yaitu hari terkahir. Sebelum acara penutupan, panitia menyarankan kpd para peserta untuk saling bertukar informasi baik itu nomor telepon, email atau apapun agar silaturrahim yg terjadi selama 4 hari itu, tidak hilang begitu saja. Dan, akhirnya Kalya pun memberikan kartu namanya ke Fahri, pria yg ia kagumi dan sukai saat di SMA dulu. Tak ada yg spesial di hari terakhir seminar itu, antara Kalya & Fahri. Semuanya berjalan biasa saja. Meskipun malamnya Kalya habis “curhat” sama yg Sang Maha Cinta, tapi Kalya berusaha untuk menutupi rasa gembira, terharu, dsb. Dan tepat pukul 13.00 waktu Surabaya, acara tersebut selesai. Dan masing2 langsung menuju bus yg sudah disiapkan panitia untuk mengantar mereka ke bandara Juanda.

Sekembalinya Kalya dari Surabaya, tak ada hal2 khusus terjadi setelah pertemuannya dengan Fahri. Bahkan boleh dibilang tidak ada komunikasi di antara mereka. Mungkin karena Kalya yg tinggal di Jakarta, sedangkan Fahri kembali tinggal di kota kelahirannya, Yogyakarta. Namun selang 2 bulan setelah seminar itu. Tepatnya di salah satu hari di bulan September. Fahri menghubungi Kalya melalui telepon. Fahri yg asli Yogyakarta, memang memiliki tutur bahasa yg sangat halus. Mungkin karena orang asli jawa (yogya) kali ya?? Sontak, Kalya gelagapan menjawab telepon dari pujaan hatinya yg dirahasiakan dulu. Sangat ringan awal percakapan mereka di telepon saat itu, mulai dari menanyakan kabaran, aktivitas masing2, sampai akhirnya Fahri menanyakan apakah Kalya sudah menikah & memiliki suami? Glek! Kalya menelan ludah & menarik nafas panjang saat pria idamannya itu menanyakan hal tsb. Sempat Kalya terdiam 2 menit diujung telepon, hingga Fahri pun bingung dengan sikapnya. Akhirnya Kalya sadar & segera menjawab: “Kalya belum menikah mas Fahri & belum juga menemukan calon kekasih halalku itu. Dan langsung saja di sambut oleh Fahri dengan pernyataan: “Kalya, saya ingin terbang tinggi untuk menuju syurga-Nya. Namun sayang sayapku cuma satu. Bersediakah kamu untuk menjadi sayapku yg satunya itu? Bersama-sama kita berjalan dalam rumah tangga yg sakinah ma waddah wa rahmah. Sebuah keluarga yg menjadi syurga, sebelum syurga sebenarnya. Jika kamu bersedia, tolong jawab Ya saat besok pagi saya menghubungimu kembali”. Dan ucapan terima kasih pun meluncur dari mulutnya Fahri, yg diakhiri dengan ucapan salam.

Bingung, bahagia, haru, semua rasa bercampur jadi satu. Dan selesai menerima telepon dari Fahri, segera saja ia turun ke lantai 1 dimana kamar ibunya berada. Langsung saja dia masuk ke kamar ibunya, dan menceritakannya dengan berurai air mata bahagia. Begitu bijaksana hati ibundanya, maka dengan pelan tapi pasti ibunda Kalya pun menjawab: “Anak itu baik nak, ibu yakin Fahri adalah pilihan Allah utk menjadi suamimu. Ibu yakin dia adalah jawaban dari do’a2mu selama ini. Terima ia, dan nikahlah kamu dengannya. Ibu merestuinya nak”. Langsung saja tubuh ibunya yg agak mungil itu, diraihnya dan dipeluknya erat2 sambil menangis di hangatnya pundak sang ibu.

Benar saja, kesesokan harinya pagi2 Fahri setelah Shubuh menghubungi Kalya kembali, dan yg menjawab telepon kali ini adalah ibundanya Kalya. Dan suara lembut lelaki itu pun menyebutkan salam, dan sempat bercakap sebentar dengan ibundanya Kalya, dan tak lama Kalya pun dipanggil ibunya utk menerima telepon dari Fahri. Dan Fahri pun to the point menanyakan jawaban atas pernyataan & pertanyaan yg ia ajukan semalam. Lalu Kalya pun, segera menjawab: “Ya, saya bersedia utk menjadi sayap yg satunya lagi”. Fahri pun mengucap syukur اَلْحَمْدُلِلّهِ atas semua ni’mat-Nya itu. Lalu Fahri pun berucap: “minggu depan saya akan ke Jakarta utk melamarmu, dan akhir tahun ini saya akan menikahimu. Dan sisa waktu yg ada 2 bulan ini, insya Allah kita gunakan semaksimal mungkin utk mempersiapkan semuanya. Dan kembali Kalya menangis bahagia, saat menutup telepon dari pujaan hatinya tsb.

*Sungguh سُبْحَانَاللّهُ cinta yg berdasar pada ridho-Nya. Semoga Allah segera mempertemukan sahabat2 semua (yg msh single) dengan kekasih halal pilahan-Nya…
(Mohon maaf jika terjadi kesamaan nama/lokasi dalam cerita ini)…

Single Post Navigation

One thought on “Aku Ingin Terbang, Namun Sayapku Hanya Satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s