Hikmah Kehidupan

Archive for the tag “kasih sayang”

Kisah Jiwa Rapuh Pada Semesta

Jiwa yang rapuh pun berkisah pada alama beserta isinya,
bertanya, diamanakah pasangan jiwa berada?
lalu, hati menciptakan serpihan kegelisahan…

 

Keinginan bertemu pasangan jiwa, bukankah itu sebuah fitrah?
sebuah fitrah pula bahwa setiap wanita ingin menjadi seorang istri dan ibu yang baik
ketimbang menjalani hidup dalam kesendirian,
dengan sentuhan kasih sayang dan belaiannya, akan terbentuk jiwa-jiwa
yang sholeh dan sholehah…

 

Letih,,, sungguh amat letih jiwa dan raga
sendiri mengayuh biduk kecil dengan rasa hampa, tanpa tahu adakah belahan jiwa
yang menunggu disana…

 

Keresahan dan kegelisahan janganlah sampai merubah pandangan kepada Sang Pemilik Cinta
kalaulah rasa itu selalu menghantui, usah kau lara sendiri
ber-Taqrrub lah kepada Allah swt,
kembalikan segala urusan hanya kepada-Nya. Bukankah hanya Ia yang

Maha Memberi dan Maha Pengasih?
Ikhtiar, munajat serta untaian do’a tiada habisnya curahkan sesukamu
kepada Sang Pemilik Hati…

 

Menangislah karena air mata permohonan kepada-Nya disetiap sujud
dan keheningan pekat malam
jadikan hidup ini selalu penuh dengan harapan baik kepada Sang Pemilik Jiwa
tausyiahilah selalu hatimu dengan tarbiyah Illahi, hingga diri ini tidak sepi dalam kesendirian…

 

Bukankah kalau sudah saatnya tiba, jodoh tak akan lari kemana?
karena sejak ruh telah menyatu denga jasad, siapa belahan jiwamu pun telah di tuliskan-Nya…
Sabarlah para sahabatku ukhti sholehah,
senyumlah laksana enyum mempesona butir embun pagi, yang selalu setia menyapa…

 

Hapuslah air mata dipipi dan hilangkan lara di hati
terimalah semua sebagai bagian dari perjalanan hidup ini,
hingga kelak akan engkau rasakan tak ada lagi riak kegelisahan dan keresahan saat sendiri…

*Nasihat diri & untuk para ukhti jombloners wherever you are. Semangaaaaattt… !!!

Iklan

Surat Untuk Menantu

Wahai menantuku,
aku hanyalah seorang Ibu yang berbicara atas nama diriku sendiri dengan melihat putriku sebagai istrimu dan engkau sebagai menantuku. Bila engkau membaca pesan ini semoga engkau melihat pula bayang wajah Ibu yang telah mengandung dan melahirkanmu, berdiri bersamaku tepat dihadapanmu.

Wahai menantuku,
bukankah engkau sudah berjanji akan menjadi imam dunia akherat untuk putriku. Bukankah engkau juga telah bersumpah untuk membawanya hingga ke baka dan memberinya satu tiket ke surga.

Wahai menantuku,
bila ada kelemahan dari istrimu dan seribu lagi keburukan yang dilakukannya akibat kelemahan dan juga karena kekurangan darinya, bukankah menjadi tugasmu untuk mendidiknya sekarang, begitu yang seharusnya.

Wahai menantuku,
diajarkan kepadamu oleh Nabi bahwa seorang suami tak boleh membiarkan mata istrinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari. Bukankah engkau sebagai suaminya yang harus melindunginya dengan rasa tentram dan aman. Maka berikanlah keteduhan bagi jiwanya.

Wahai menantuku,
engkau suami yang dipilih Tuhan untuk putriku, bersabarlah terhadap istrimu dan tetaplah bersikap lemah lembut padanya. Bukankah engkau menikahinya atas nama Tuhanmu maka sayangi dan peliharalah istrimu dengan jalan Tuhan.

Wahai menantuku,
sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan dan itu disebabkan mereka durhaka terhadap suaminya, maka selamatkanlah istrimu dari dosa yang lebih besar. bukankah nantipun engkau akan ditanya tentang tanggung jawab bagaimana kau mengurus mereka dan menjaga jalan surga untuk bisa di lalui oleh yang harus kau bawa serta.

Wahai menantuku,
engkau di ijinkan menghukum istrimu sewajarnya namun janganlah mengenai wajahnya dan jangan pula menyentuh tubuhnya hingga meninggalkan jejak luka. Janganlah menghardiknya dengan kata-kata kasar dan umpatan yang merendahkan seolah engkau turut menistakan dirimu sendiri sebab ia juga adalah pakaianmu…

*Semoga menjadi renungan untuk semua*…

Ceritamu, Menggugahku

Tomi, Pimpinan cabang sebuah perusahaan di Jakarta,
tiba di rumahnya jam 21.00
Tak seperti biasanya anaknya, Shinta, umur 8 th membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
“Kok, belum tidur?” sapa Tomi
“Aku nunggu Papa pulang,
sebab aku mau tanya,
Berapa sih gaji Papa?”
“Kamu hitung ya..
Tiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam & dibayar 400.000,
tiap bulan rata-rata 22 hari kerja,
kadang Sabtu masih lembur.
Berapa gaji Papa hayo?”
“Kalo 1 hari Papa dibayar 400.000 untuk 10 jam,
berarti 1 jam Papa digaji 40.000 dong?”
“Wah, pinter kamu.
Sekarang cuci kaki, terus tidur ya nak..”
“Papa, aku boleh pinjam 5.000 gak?”
“Sudah, gak usah macam-macam..
Buat apa minta uang malam-malam gini? Tidurlah..”
“Tapi Papa‚Ķ”
“Papa bilang tidur!”
Shinta pun lari menuju kamarnya sedih.

Usai mandi, Tomi menyesali kekesalannya. Lalu ia¬†menengok Shinta di kamar tidurnya sedang terisak sambil memegang uang Rp 15.000, kemudia Tomi mengelus kepala shinta dan berkata,”Maafin Papa ya..
Papa sayang sama Shinta..
Tapi buat apa sih minta uang sekarang?
“Papa, aku gak minta uang.
Aku hanya pinjam,
nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan seminggu ini.”
“lya, iya, tapi buat apa?”
“Aku nunggu Papa dari jam 20.00 mau ajak Papa main ular tangga, 30 menit aja.
Mama sering bilang waktu Papa itu amat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa.
Aku buka tabunganku hanya ada Rp 15.000…
Karena Papa 1 jam dibayar Rp 40.000,
maka setengah jam aku harus ganti Rp 20.000, berarti uang tabunganku kurang Rp 5.000,
makanya aku mau pinjam dari Papa” kata Shinta polos.
Tomi pun terdiam.
Ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan haru. Dia baru menyadari,
ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tak cukup untuk “membeli” kebahagiaan anaknya.

“BAGI DUNIA, MUNGKIN KAU HANYA LAH SESEORANG.
TAPI BAGI SESEORANG, KAU ADALAH DUNIA NYA”

Post Navigation